Posted on

Berzina dan Minuman Keras Pada Hakekatnya Halal – 6

Dari 85 – 123

Kiriman 85

Lingga Pradana membalas kiriman Andapada 02 Juli 2009 jam 19:43

@M Imron

sya akn coba jwb prtnyaan anda dng sringkas mngkin

konsep dan hakekat beriman/percaya pada 6 hal itu seperti apa? keimanan itu barometernya seperti apa dalam kaitannya dengan halal dan haram? esensi iman itu apakah merupakan mahluk yang diciptakan oleh Allah atau merupakan sifat dari Qodariah yang merupakan prilaku manusia yang tanpa campur tangan Alla?

Beriman adalah sebuah misterius dalam hati yang tidak konsisten dalam eksistensinya, sehingga apakah beriman itu harus islam dulu atau iman dulu baru islam dan bagaimana kalau berdiri sendiri hakeatnya dimata ALLAH?

Lantas apakah hakekat ALLAH mengharuskan manusia untuk beriman?

==============================================
Dalam bahasa sederhana mungkin bisa dikatakan ya sudah beriman, tetapi pada tataran awam (eksoterik) yang menggunakan definitif pikiran. Di dalam tataran lebih dalam lagi yang melibatkan hati (bathiniah/esoterik) mungkin belum bisa dikatakan dia sudah beriman. Mari kita coba urai lebih lanjut perihal Islam dan keimanan ini

Tahapan pertama dalam memeluk agama Islam adalah membaca dua kalimat syahadat. Yaitu kesaksian akan keesaan Allah dan kesaksian akan kenabian Rosulullah Muhammad SAW.

Hakikat dan hasil dari kesaksian akan tauhid adalah meninggalkan seluruh
seluruh tujuan dan sembahan selain Allah SWT.

Sedangkan hasil dari kesaksian akan kenabian adalah mengikuti sabda-sabda Rosulullah dan menerima semua perintah dan hukumnya yang berasal dari Allah SWT.

Ini adalah langkah menuju kedudukan pertama dalam agama Samawi

Tahapan kedua adalah keimanan, yakni pencapaian ketenangan dan keyakinan dan hubungan emosional (irtibath qalbi) dengan dua syahadat sebagai dampak dari penelitian, pemikiran dan pencerahan bathin

Berakhirlah masa perbedaan antara lahir dan bathin serta pergulatan
pemikiran dan kemunafikan melalui pengaruh kecenderungan hati ini dan
ikatan bathin (al irtibath al bathini), lalu munculah tahapan keimanan

Hakikat keimanan menguat dan keyakinan hati mengkristal dalam hati manusia, maka akan tercabutlah dari hati pelbagai ketergantungan materi dan tujuan-tujuan duniawi, sedikit demi sedikit, lalu tempat yang
ditinggalkannya diisi oleh cinta dan loyalitas (ikhlas) kepada Allah SWT

Penjelasan detail tentang Islam dan keimanan ini mari kita coba lihat Kalamullah dan Sunatullah

Kalau kita merefer hadits yang bersumber pada Ringkasan Syarah Arbain
An-Nawawi – Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh saya ringkas tanpa menghilangkan maknanya, hadits diceritakan oleh Umar R.A. sebagai berikut,

Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.Kemudian
Rosululloh shollallohualaihi wasallam menjawab: Islam yaitu: hendaklah
engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Allah dan
sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke rumah Allah jika engkau mampu mengerjakannya
Orang itu berkata:
Engkau benar. Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula
yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi: Lalu terangkanlah kepadaku
tentang iman. (Rosululloh) menjawab: Hendaklah engkau beriman kepada
Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya,
hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang
buruk
Orang tadi berkata: Engkau benar. Wahai Umar, tahukah engkau siapa
orang yang bertanya itu ?
Umar RA menjawab: Alloh dan Rosul-Nya yang
lebih mengetahui.Lalu beliau bersabda: Dia itu adalah malaikat Jibril
yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian……(HR. Muslim).

Dienul Islam mencakup tiga hal, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan.
Islam berbicara masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan ihsan
mencakup keduanya
Ihsan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari iman, dan iman memiliki
kedudukan yang lebih tinggi dari Islam. Tidaklah ke-Islam-an dianggap sah
kecuali jika terdapat padanya iman, karena konsekuensi dari syahadat
mencakup lahir dan batin. Demikian juga iman tidak sah kecuali ada Islam
(dalam batas yang minimal), karena iman adalah meliputi lahir dan batin.

Ahlussunnah menetapkan kaidah bahwa jika istilah Islam dan Iman
disebutkan secara bersamaan, maka masing-masing memiliki pegertian
sendiri-sendiri, namun jika disebutkan salah satunya saja, maka mencakup
yang lainnya. Iman dikatakan dapat bertambah dan berkurang, namun tidaklah dikatakan bahwa Islam bertambah dan berkurang, padahal hakikat keduanya adalah sama. Hal ini disebabkan karena adanya tujuan untuk membedakan antara Ahlussunnah dengan Murjiáh. Murjiáh mengakui bahwa Islam (amalan lahir) bisa bertambah dan berkurang, namun mereka tidak mengakui bisa bertambah dan berkurangnya iman (amalan batin). Sementara Ahlussunnah meyakini bahwa keduanya bisa bertambah dan berkurang.

Istilah Rukun Islam dan Rukun Iman, Istilah Rukun pada dasarnya
merupakan hasil ijtihad para ulama untuk memudahkan memahami dien. Rukun berarti bagian sesuatu yang menjadi syarat terjadinya sesuatu tersebut, jika rukun tidak ada maka sesuatu tersebut tidak terjadi. Istilah rukun seperti ini bisa diterapkan untuk Rukun Iman, artinya jika salah satu dari Rukun Iman tidak ada, maka imanpun tidak ada. Adapun pada Rukun Islam maka istilah rukun ini tidak berlaku secara mutlak, artinya meskipun salah satu Rukun Islam tidak ada, masih memungkinkan Islam masih tetap ada
Kata iman, dalam bahasa Indonesia berarti percaya. Menurut kamus Al Quran, kata iman secara bahasa, artinya membenarkan dengan hati adanya
petunjuk-petunjuk Allah yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW, untuk
seluruh manusia. Sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati dan mengucapkan dengan lisan, serta mengerjakan dengan anggota badan.

Di atas sudah dijelaskan konsep keimanan yang sederhana dan mudah.
Dalam QS Al Hujaraat [49]:14, justru Anda akan dijelaskan lebih dalam lagi.
Diceritakan sekelompok Arab Badui datang kepada Rosul SAW serta menyatakan dirinya sudah beriman kepada Allah dan Rosul-Nya, akan tetapi konsepsi iman itu dibantah oleh Allah langsung pada saat itu, bahwa yang dimaksud keimanan itu bukan berasal dari pikiran dan aturan yang ditekankan dari luar dirinya, akan tetapi iman itu berasal dari fitrah atau jiwanya sendiri

"Orang-orang Arab Badui itu berkata :"Kami telah beriman",
katakanlah (kepada mereka) "Kamu belum beriman", tetapi katakanlah kmi
telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu… (QS. Al
hujaraat [49]:14)

Al Quran merupakan ayat kauliah yang membenarkan kenyataan ayat-ayat yang muncul dari jiwanya sendiri, seperti rasa kasih sayang, kecenderungan untuk berbuat baik dan lain-lain, semua bukan tuntutan untuk berbuat tetapi memang merupakan fitrah atau perwujudan dari dirinya. Allah tidak hanya menempatkan fitrah diri manusia kedalam keimanan kepada Allah, tetapi juga keinginan berbudi luhur dan menolak kepada kejahatan

"…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada
kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah yang mengikuti jalan
yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah, dan Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS Al Hujaraat [49]:7-8)

Tuhan telah menganugerahi manusia Fitrah dasar melalui rohani yang
suci, sehingga Islam mewajibkan berpuasa sebagai pengendali hawa nafsu
untuk menngembalikan kefitrahan (iedul fitri), yang dilukiskan oleh
Rosulullah SAW kepada kita seperti bayi yang baru lahir, yang lahir ke
dunia membawa spiritual yang suci. Dosa dan perubahan yang terjadi
kepadanya merupakan suatu yang "aksidental" dan tidak berhubungan dengan sifat alamiah dasarnya. Ini merupakan suatu tindak kekerasan terhadap fitrah dan kemerosotan insting yang tidak saja menyebabkan penyakit kejiwaan namun juga menghalangi kemerdekaan jiwanya

"Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal
mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar, dalam hati
mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa
yang pedih disebabkan mereka berdusta" (QS. Al Baqarah [2]:9-10).
Al hasil, setiap iman dan kufur akan menentukan arah dan tujuan utama dari
perjalanan hidup manusia. Adakalanya bergerak ke arah kesempurnaan dan
kebahagiaan, atau ke arah kesengsaraan dan kehancuran, Jadi, iman dan kufur ini menentukan nasib seseorang

Dengan demikian, pentingnya pengaruh iman terhadap kesempurnaan
dan kebahagiaan manusia dari sisi bahwa keistimewaan utama jiwa manusia
adalah hubungan berkesadaran dan ikhtiari dengan Allah SWT. Tanpa hubungan ini, ia tak akan menyentuh kesempurnaan hakiki serta berkah-berkahnya.

Dengan kata lain, tanpa kedekatan di sisi-Nya (Qurb Ilahi), hakikat
seseorang tidak akan mengejawantah secara aktual. Apabila ia ia mengabaikan anugerah Ilahi yang bernilai tinggi ini dengan ikhtiar buruknya, sungguh ia telah menjerumuskannya kedalam kezaliman yang paling besar, karena ia berhak mendapatkan siksa yang abadi. (QS. Al Anfal :55).

sebenarnya mesti panjang lagi kalau mau saya jelaskan cuma maff banget waktu saya terbatas

lagi juga pegel banget boz kalau harus di perjelas serinci mungkin

nah untuk pertanyaan yang ini

Lantas apakah hakekat ALLAH mengharuskan manusia untuk beriman?

===========================================
coba anda langsung tanyakan kepada ALLAH karena dari segi bahasa anda anda sedang bertnya kepada ALLAH maka yang berhak jawab ALLAH bukan saya

Balas ke LinggaLaporkan

Kiriman 86

1 balasan

Irjaf Iftul membalas kiriman Andapada 02 Juli 2009 jam 20:29

KALO SMUA YG ANDA LAKUKAN ITU PASTI KRENA SIRR ALLAH… MGKN BISA DITOLERANSI. TPI BSAKAH ANDA TAHU PERBUATAN ITU SIRR ATO BKN???? SIRR DAN NAFSU BEDANYA TIPIS. SHOLAT AJA SECARA HAKIKAT[sya blg secara hakikat,jdi tlg untuk orang2 pengagum syariat jgn campur adukkan syariat dulu dsini] SHOLAT AJA secara hakekat GAK BOLEH ADA KEINGINAN>>INGIN SHOLAT..KRENA ITU UDAH merupakan NAFSU.. SEMUA HRS KRENA SIRR ALLAH. DAN UNTUK MELATIH SIRR YG SPERTI ITU AJA SUSAH PDHAL PERBUATAN BAIK..MAKA DISINILAH BARU PERAN SYARIAT UNTUK MELATIH DIRI…. LA SKRG GMNA MSLAHNYA KALO DALAM HAL BURUK… SPERTI MAKSUD ANDA????WAALLAHU ALAM…

Balas ke IrjafLaporkan

Kiriman 87

Lingga Pradana menulispada 02 Juli 2009 jam 21:41

sebenarnya PONDASI mempelajari TASSAWUF adalh ILMU TAUHID , ILMU AQIDAH, ILMU FIQIH

apabila pondasi itu belum kuat dan tidak sering di asah maka akan mudah SYETAN menyesatkan’a

seperti janji pnyesatan syetan mnyestkan mnusia dgn brbagai cara
salah satu’a "MENYESATKAN DALAM AGAMA’a" yg prnah d critakan oleh GURU sya

maksud menyesatkan dalam agama’a ialah menyampingkan apa yang telah di tetapkan ALLAH dengan membantah bahwa apa yang dilakukan karena ALLAH, apa yang diperbuat untuk ALLAH, segala’a karena ALLAH !

padahal tidak seusai SYARIAT yg ditetapkan oleh ALLAH !!

naudzubilla min dzahlik

YA ALLAH aku mohon perlindungan MU dari godaan SYETAN terkutuk
Jangan slewengkan AGAMA DIEN MU ini dari godaan SYETAN

Balas ke LinggaLaporkan

Kiriman 88

Agus Lebon membalas kiriman Andapada 02 Juli 2009 jam 22:15

jelas anda ragu..ragu bukanlah iman,saran saya, teruslah belajar,jangan berbagi pengalaman spiritual ke ruang publik,mengundang fitnah,bertanyalah kepada ahlinya langsung.kalau anda ahli tarekat,anda bisa mulai bertanya kepa da mursyid anda.terima kasih…

Balas ke AgusLaporkan

Kiriman 89

Lingga Pradana menulispada 03 Juli 2009 jam 21:26

@ agus
sya stuju dgn anda

Balas ke LinggaLaporkan

Kiriman 90

2 balasan

Anda membalas kiriman Irjafpada 04 Juli 2009 jam 4:55

@ Bung Irjal yang bijak:

KALO SMUA YG ANDA LAKUKAN ITU PASTI KRENA SIRR ALLAH… MGKN BISA DITOLERANSI. TPI BSAKAH ANDA TAHU PERBUATAN ITU SIRR ATO BKN???? SIRR DAN NAFSU BEDANYA TIPIS.
…………..MAKA DISINILAH BARU PERAN SYARIAT UNTUK MELATIH DIRI…. LA SKRG GMNA MSLAHNYA KALO DALAM HAL BURUK… SPERTI MAKSUD ANDA????WAALLAHU ALAM…
===================
Untuk mengetahui sebuah perbuatan itu dilakukan pasti karena SIRR Allah adalah dengan melakukan sesuatu perbuatan misalnya MINUM BLACK LEBEL (Merk Minuman Keras) adalah indikatornya NIAT . Niat bukan karena hasrat, hoby, keinginan,pemikiran,keadaan,tetapi melakukan NIAT karena telah lepasnya HAWA NAFSU, cita-cita, harapan, keinginan dan sejenisnya,karena hal ini adalah perbuatan manusia yang masih bisa di ukur dengan batas dimensi ruang dan waktu. Tetapi NIAT untuk sebuah perbuatan SIRR Allah adalah NIAT yang dilakukan/diperbuat/dikerjakan/ oleh angota tubuh tetapi pada hakekatnya NIAT bathiniahnya tanpa adanya batas dimensi ruang dan waktu, bahkan telah melepas pada kadar dimensi IMAN dan ISLAM,apalagi dimensi SYARIAT – Halal dan Haram. Maka indikator awal adalah pada dimensi IHSAN yaitu hakekat perbuatan ISLAMI dan IMANI. Sehingga sebuah dampak dari perbuatannya telah memiliki titik effect yang berbeda. Contoh :

Perbuatan Sunan Kalijago mencuri TETAPI hasilnya dibagikan kepada fakir miskin, Perbuatan nabi Khaidir membunuh anak kecil ketika bersama Nabi Ibrahim dll. -INILAH CONTOH PERBUATAN SIRR ALLAH

Mungkin bisa terjadi pada saat kita melakukan minum-minuman keras TETAPI Dampaknya dari perbuatan minum ini tidak layaknya seperti orang MABUK secara umum, tetapi dia melakukan perbuatan pada dimensi Islam dan Iman, seperti dzikir, sholat, dakwah, dan perbuatan yang realitas dan logic serta memiliki daya ingat yang luar biasa untuk menjawab pertayaan dimensi ruang dan waktu.

Prilaku batiniah, selalu bersyukur dan ikhlas kepada ALLAH pada kadar yang sama saat meneriman kebahagiaan dan penderitaan, ujian baik dan buruk, rejeki dan musibah.

Dalam bahasa Mas Muhammad Arif Darmawan,
====================
Kalau seseorang dipukulin, dicaci, diperkosa hak-haknya menganggap sebagai suatu Kasih Sayang Allah ya ndak papa kalau dikatakan bahwa minuman keras dan berzina itu halal……(bagi Anda tentunya)….

Kalau punya istri atau calon istri dizinahi orang merasa ngga papa bahkan anda berterimakasih kepada orang yang menzinahi istri anda….baru mungkin anda boleh mempertimbangkan bahwa BERZINA dan MIRAS ITU HALAL…..
===============

YANG JELAS PERBUATAN SIRR ALLAH ADALAH BUKAN PERBUATAN SULAP ATAU PERBUATAN YANG MELIBATKAN KHADAM JIN DAN SYAITAN.

Kiriman 91

1 balasan

Ahmad Nur Kholid membalas kiriman Andapada 04 Juli 2009 jam 8:58

Wakakak…. maaf saya merasa geli dengan "tesis" yang mas imron lakukan.

Pertama:
Jika perbuatan buruk dan haram dapat menjadi halal karena niatnya, maka kiasannya adalah begini:
Seseorang menzinahi ibu-nya mas Imron, atau menzinahi anak-nya mas Imron, atau menzinahi kakak atau adiknya mas Imron dengan "niat yang tulis ikhlas" "menyenangkan" mereka. Untuk memberikan kenikmatan kepada mereka, tentu mas Imron juga harus menghalalkannya. Niat mereka baik kok……

Mungkin hanya mas Imron yang menghalalkannya….

Kedua:
Perbuatan Raden sahid sebelum menjadi wali juga salah dan waktu itu dia belum menjadi sunan. Dia menjadi sunan setelah bertobat dari tindakannya tersebut. Tolong dilihat lagi mas sejarahnya.

Ya layaknya mencuci tangan dengan air kencing…. justru malah menyebabkan najisnya bertambah.

Ketiga:
Sir Allah yang mana lagi to mas….. gak ada sirr-sirr yang kayak gitu…. mengada-ada saja. Soal kisah Nabi Hidhir itu adalah syareat yang khusus untuk Nabi Hidhir. Umatnya Nabi Muhammad syareatnya lain lagi……

Balas ke AhmadLaporkan

Kiriman 92

2 balasan

Lingga Pradana membalas kiriman Andapada 04 Juli 2009 jam 21:07

@ M imron

kli ni br sya bsa trtawa dng sngt geli’a mliht postingan anda
maff bukn makdsu mnghina !!
hnya sja lucu pmbhasan anda ini

“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 1-2)

kalau smpe al – quran sja brni d bantah brrti dia bukn trmasuk orng2 brtakwa

"Orang yang cerdik adalah orang yang selalu meneliti dirinya dan beramal untuk PERSIAPAN SESUDAH MATI, sedangkan orang yang lemah akal (bodoh) ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta mengangan-angankan atas Allah dengan bermacam-macam angan-angan." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

sprti hadist d ats hnya orng bodoh mngikuti hawa nafsu’a tpi brangan angan ats ALLAH !!

sudh jels SYARIAT’a haram lah ko d HALAL kn udh gtu brangan angan dgn ALLAH lgi !!

dgn mlanggar ktentuan ALLAH mka telh brbuat jahat dgn ALLAH

“Barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah, niscaya dia akan mendapatkan (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah, niscaya dia akan mendapatkan (balasan)nya.” (Q.S. Az-Zalzalah: 7-8)

anda berkata

melepas pada kadar dimensi IMAN dan ISLAM

Islam berbicara masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan ihsan
mencakup keduanya

gmna mo lngsung k ihsan sedngkan scra lhir n batin tidk d jalnkn ssuai SYARIAT !!

potongan hadist yg sbnr’a sudh sya ksih buat anda

Orang itu bertanya lagi: Lalu terangkanlah kepadaku
tentang iman. (Rosululloh) menjawab: Hendaklah engkau beriman kepada
Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya,
hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang
buruk

"Orang-orang Arab Badui itu berkata :"Kami telah beriman",
katakanlah (kepada mereka) "Kamu belum beriman", tetapi katakanlah kmi
telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu… (QS. Al
hujaraat [49]:14)

gmna mau d bilg briman kpd ALLAH klo dia tidk mngimani AL – quran

pdhl sudh jels n tegas d dlm AL- Quran d larang !!

aduh2 mkin mlenceg sja

Balas ke LinggaLaporkan

Kiriman 93

1 balasan

Ade Imda Firmansyah membalas kiriman Ahmadpada 04 Juli 2009 jam 21:21

@ Bung Ahmad Nur Kholiq :
Subhanallah…. apa yang anda tulis tidak ada satupun yang salah…..

"Karena ibarat sang pemburu macan yang sudah di nanti-nati berhari-hari ternyata hasilnya hanya seekor monyet" sang pemburu tidak salah dan apa yang dilakukan sama sang pemburu sama sekali tidak ada salahnya yang salah adalah moyet yang menyeberang tepat didepan sang harimau, maka moyetlah yang mati"….. subhanallah…..

sama sekali Bung Ahmad Nur Kholid setitikpun tidak salah, karena bidikannya sangat tepat cuma sayang ada moyet melintas, maka apeslah sang moyet.
Subhanallah……. Apa yang anda tulis 100% BENAR….. cuma yang aku sesalkan begitu tragisnya nasibsang moyet jadi korban sia-sia…. semoga arwahnya dapat masuk surga. Amin

Balas ke Ade ImdaLaporkan

Kiriman 94

1 balasan

Ade Imda Firmansyah membalas kiriman Linggapada 04 Juli 2009 jam 21:47

@ Mas Lingga Yang Smart :

Tautan anda adalah merupakan kebenaran syar’i yang tidak bisa dibantah kebenarannya………oleh siapapun bahkan oleh jin dan malaikat sekalipun apalagi saya yang hanya seorang gembala saja, tetapi tautan anda sebagai berikut :

==============
“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 1-2)

kalau smpe al – quran sja brni d bantah brrti dia bukn trmasuk orng2 brtakwa

gmna mo lngsung k ihsan sedngkan scra lhir n batin tidk d jalnkn ssuai SYARIAT !
===============

@Bung Lingga :
Realitas kebenaran yang anda ungkapkan adalah saya teringat akan cerita sang anak melihat corned dalam kaleng disebuah Mall dengan tulisan halal dan expired nya masih April 2011, maka sang anak langsung klaim inilah makanan corned yang halal yang terbuat dari daging yang disembelih dengan Asma Allah…….

Maka satu minggu kemudian ada operasi dari DENPOM yang dimuat di salah satu surat kabar langganan sang anak tersebut, ternyata corned yang di konsumsi anak tersebut disita habis lantaran corned nya ternyata buatan dari negeri Cina dimana merupakan danging sapi yang disembelih tanpa berdasarkan syariat islam" ……… maka tercenganglah anak tersebut karena dia sudah terlanjur mngklaim bahwa corned yang dia makan adalah halal, tetapi dia mengklaim proses halal tersebut hanya berdasarkan hukum realitas saja tanpa melalui jalur riset dan penelitian. Subhanallah……..

Semoga yang anda tulis tidak seperti corned yang berlabel halal saja …. saya yakin yang anda tulis adalah corned berlebel halal dan sudah dilegalkan oleh denpom melalui riset…… Subhanallah……

Balas ke Ade ImdaLaporkan

Kiriman 95

Ade Imda Firmansyah membalas kiriman Linggapada 04 Juli 2009 jam 22:06

SUBHANALLAH… ALLAHU AKBAR….. ASTAGFIRULLAH…. SEMOGA KITA MENJADI PEMAIN BOLA YANG SALAH TETAPI TELAH BERUPAYA SEKUAT TENAGA UNTUK BERBUAT BENAR…… daripada kita menjadi comentator pemain bola tetapi sebenarnya kita tidak tahu kalau disuruh menendang bola saja….. karena kita hanya menjadi seorang comentator…..

Saya yakin… kalian semua tidak akan menjadi comentator terhadap HUKUM SYARI’AT AL-QUR’AN HADIST dimana anda tahu semua tentang hakekat dan makrifat dari Al-Qur’an Hadist…. tetapi kita sering kali selingkuh dalam prakteknya….. saya yakin seandainya SSJ adalah pemain bola maka dia adalah pemain bola yang salah tetapi sudah berupaya sekuat tenaga dengan tulus ikhlas untuk menjadi pemain bola yang handal seperti maradona…. tetapi bukan sebagai comentator pemain bola yang handal…… ASTAGFIRULLAH…..

Balas ke Ade ImdaLaporkan

Kiriman 96

Agus Amir menulispada 05 Juli 2009 jam 3:56

Berbahagialah orang yang masih bertanya-tanya apakah dia iblis atau bukan, sebab kebanyakan orang terlalu bangga pada pendirian bahwa dia malaikat. Padahal, malaikat dan iblis hanya 2 sisi mata uang yang Tuhan mainkan dengan sempurnanya SifatNYA. Orang munafik mengaku sebagai malaikat yang seakan-akan mendengar sendiri dan tahu arti Firman Tuhan (padahal nabi yang mendengar langsung FirmanNYA di tamana Firdaus pun, yaitu nabi Adam pun bisa tersesat oleh bisikan yang lain, apalagi manusia yang tinggal di bumi yang hanya bicara tentang insting, wangsit, setinggi-tingginya wahyu). Karena banyak manusia mengaku punya sifat malaikat tapi tak mengaku kalau juga punya sifat iblis, mereka menghalalkan segala cara demi berketetapan pada ilusinya. Akhirnya, bisa diramalkan, terjadi paham radikalisme, terorisme, dll, membunuh sesama seakan malaiakat pencabut nyawa dengan membawa dalil-dalil yang ia atau pimpinannya syahkan.

Balas ke AgusLaporkan

Kiriman 97

Lingga Pradana membalas kiriman Ade Imdapada 05 Juli 2009 jam 10:00

@ ade
aduh2 sya ga smart mas ,,
jngn brlebihan dech

apakah kebenaran dari corned mau di samakan dengan al quran / hadist ??!!
halal n haram prodk corned trsebutkn di buat oleh mnusia !!

sedngkn al – quran n hadist ALLAH yg buat !!

sinospsis yg anda buat tidk nyambung mas

Balas ke LinggaLaporkan

Kiriman 98

Ahmad Nur Kholid membalas kiriman Ade Imdapada 05 Juli 2009 jam 14:21

Terima kasih mas…..
Tolong dong diperjelas maksud "monyet"-nya biar saya juga memahami…….
______________________________________________________________
"Komentator?" tolong diperjelas yang "pemain" seperti apa mas….. biar saya ikut mengklasifikasikan diri sebagai sekedar "komentator" atau "pemain"….

thks

Balas ke AhmadLaporkan

Kiriman 99

Pulung Tri Handoko menulispada 05 Juli 2009 jam 18:24

sabar mas lingga jangan terbawa emosi hehehe…
ingat tugas manusia sebagai makhluk hanya menyampaikan kebenaran bukan memaksa seseorang untuk mengikuti kebenaran kalo ada unsur itu ya mari kita istghfar bareng-bareng hehehe…

Balas ke PulungLaporkan

Kiriman 100

Pulung Tri Handoko menulispada 05 Juli 2009 jam 18:30

weleh-weleh sama2 orang islam yo mari padha rukun sama2 nyari kebenaran katanya kok malah jadi kebathilan ingat mas banyak cara setan menjerumuskan kita termasuk dengan ilmu yang kita punya hehehehe

Balas ke PulungLaporkan

 

           

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s