Posted on

Mu’tazilah di Negeri Sampah

Mu’tazilah di Negeri Sampah
Agus Purwanto (Fisika ITS)

Di pergantian tahun 2003-2004 lalu ada fenomena menarik yang mungkin lepas dari perhatian banyak orang. Fenomena tersebut adalah maraknya tayangan ramal meramal di beberapa stasiun televisi. Tayangan ini dan tayangan rutin semacam ”Dunia Lain’ (sebuah program acara mistik di televisi) membuat sebagian insan dari dunia pendidikan tercenung masygul dan sampai pada kesimpulan Indonesia benar-benar tempat sampah!

Mengurai sampah

Sedikitnya ada dua hal yang menuntun pada kesimpulan seperti itu. Pertama, pemahaman dan praktik kebebasan, demokrasi, dan HAM kita. Di Barat memang sangat bebas termasuk berbeda pendapat serta perdebatan. Tetapi kebebasan yang kita ambil justru kebebasan sampah seperti penampilan dan pose semi telanjang serta pergaulan bebas asal suka sama suka. Fenomena paling aktual yaitu kriteria poligami bagi politisi busuk juga merepresentasikan kebebasan sampah.

Di dalam berdemokrasi, dulu Jenderal AH Nasution (alm) pernah diminta menjadi presiden menggantikan Sukarno tetapi beliau menolaknya. Alasannya sederhana, beliau merasa bukan orang Jawa. Kini jangankan orang luar Jawa, orang nonmuslim pun maju sebagai capres di negeri yang mayoritas muslim ini. Fenomena yang belum pernah terjadi di negeri kampiun demokrasi Amerika sekali pun. Konon, menghalangi kebebasan bergaul dan melarang warga negara apapun suku dan agamanya menjadi capres berarti melanggar HAM.

Kita pun mengambil HAM sampah, dan kehilangan kearifan individu maupun kolektif. Kedua, tayangan ramal meramal di televisi. Beberapa peramal yang ditampilkan adalah warga Tionghoa yang konon ahli feng shui. Menurut penulis menampilkan ramal meramal ala Cina dan lainnya di saat masyarakat perlu dibangkitkan etos kerja dan kesadaran ilmiahnya berarti menampilkan sisi sampah dari suatu tradisi. Banyak kebiasaan masyarakat Cina yang lebih layak untuk ditayangkan dan disosialisasikan.

LA Marschall di dalam "The Supernova Story" menulis cukup lengkap hasil dari tradisi begadang dan mengamati langit di Cina. Sejarah Cina mencatat setengah lusin pertama bintang baru yang kini dikenal sebagai supernova, berturut-turut tahun 185, 386, 393, 1006, 1054, dan 1181. Pengamatan yang mendahului sejawatnya di Arab maupun Eropa. Kini supernova diketahui mempunyai peran dalam menyibak rahasia alam semesta dan menjadi objek perburuan para ahli astrofisika.

Tradisi ilmiah hidup terus di Cina; Tsung Dao Lee, Chen Ning Yang, dan Chien Shiung Wu adalah contoh produknya. Dua nama pertama adalah pemenang hadiah nobel fisika tahun 1957. Lee dan Yang masing-masing kelahiran Shanghai dan Hofei masih berusia 31 dan 35 tahun ketika menerima hadiah tersebut. Sedangkan nama ketiga merupakan wanita penemu penyimpangan paritas dalam peluruhan beta. Salah satu akselerator partikel besar dunia ada di Cina.

BEPC (Beijing Electron Positron Collider) adalah kolider versi SLAC (Stanford Linear Accelerator Center) SPEAR yang di-upgrade. Akselerator ini menghasilkan sejumlah besar quark charm, lepton tau, dan telah membuat pengukuran masa lepton tau. Reputasi paling aktual dan sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Cina adalah penerbangan ruang angkasa 15 November 2003 lalu. Prestasi ini telah direkam dalam video CD dengan judul Flying Dream Fulfilled dan sudah beredar di pasaran.

CD ini menceritakan 20 tahun perjalanan Cina mengejar impian dan ambisi mengarungi ruang angkasa. Sen Zhou 5 dan awaknya Yang Li Wei meneguhkan Cina sebagai negara ketiga yang sukses melakukan penerbangan ruang angkasa setelah Rusia dan Amerika. Banyak tradisi dan semangat masyarakat Cina yang jauh lebih berguna ditampilkan di negeri kita. Khususnya impian, ambisi, serta usaha Cina untuk sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Jauh-jauh hari pun kita dipesan utlubul ‘ilma walau bissin, tuntutlah ilmu walau sampai di negeri bambu ini.

Perspektif teologis

Belajar dari pengalaman negeri yang kini lebih maju dari kita seperti Cina, Jepang, Korea, Malaysia, bahkan Vietnam, kata kuncinya adalah ilmu pengetahuan atau sains. Bangunan sains kealaman khususnya didirikan di atas pondasi keteraturan jagad raya dan penerimaan hukum kausalitas. Namun, penerimaan prinsip kausalitas terkait erat dengan pandangan teologis. Teologi merupakan bagian utama dari pandangan dunia (world view) yang melukiskan kaitan antara Sang Pencipta dan yang dicipta.

Itu sebabnya masalah pengembangan sains bukan sekadar persoalan kapital melainkan juga persoalan teologis. Persisnya, efek dari pandangan teologi. Teologi atau ilmu kalam yang diajarkan di dunia Islam termasuk Indonesia adalah aliran Asy’ariyah atau sering disebut sebagai ahl sunnah wal jamaah. Padahal pandangan Asy’ariyah cenderung berseberangan dengan landasan sains yang disebutkan di atas. Aliran kalam lain yaitu Mu’tazilah cenderung berpandangan rasional liberal. Aliran ini berpandangan bahwa alam bahkan Tuhan sendiri terikat oleh hukum alam yang tidak berubah.

Mu’tazilah berpandangan setiap benda mempunyai nature-nya sendiri, menimbulkan efek tertentu, dan tidak dapat menghasilkan efek lain. Api tidak menghasilkan sesuatu kecuali panas, dan es tidak menghasilkan sesuatu kecuali dingin. Dan, efek yang ditimbulkan oleh setiap benda bukan perbuatan Tuhan. Keseragaman peristiwa alam itulah yang dikenal sebagai hukum kausalitas. Abu Hasan Asy’ari yang mulanya pengikut Mu’tazilah tidak setuju ide nature dan efeknya yang khas.

Api tidak mempunyai sifat panas dan daya bakar, buktinya nabi Ibrahim tidak hangus saat dibakar. Asy’ariyah juga menolak kausalitas; dan menurutnya keseragaman peristiwa alamiah hanya penampakan dan tidak nyata dalam arti tidak memiliki eksistensi objektif. Sebab akibat tidak lebih dari sekadar konstruksi mental atau kebiasaan dalam pikiran. Asy’ariyah juga menolak pandangan Mu’tazilah tentang kehendak bebas dan daya manusia. Ide ini dipahami Asy’ariyah sebagai adanya pencipta (daya) selain Tuhan yang pada gilirannya juga bermakna manusia tidak lagi berhajat kepada Tuhan.

Dengan demikian Mu’tazilah jatuh dalam kekafiran. Mengenai perbuatan manusia, agar tidak seperti Mu’tazilah tetapi juga tidak jatuh pada pandangan jabbariyah Asy’ariyah memperkenalkan ide al-kasb (perolehan). Al-kasb merupakan perbuatan yang terletak di dalam lingkungan daya yang diciptakan, dan diwujudkan dengan perantara daya yang diciptakan. Dengan demikian daya manusia turut serta dalam perwujudan manusia, karenanya manusia tidak sepenuhnya pasif. Konsep ini cukup sulit dipahami orang kebanyakan dan simplifikasinya tetap membawa pada ide fatalistik.

Asy’ariyah memang berangkat dari aksioma superioritas Tuhan. Kausalitas hanya akan menurunkan peran dan derajat kesakralan Tuhan. Sikap ekstrem ini, menurut perenialis Frithjof Schoun membawa pada paradoks dan absurditas. Menjadi hampa makna dan absurd ketika Tuhan menjanjikan surga tetapi Dia dengan sewenang-wenang boleh melanggarnya sebagaimana ide Asy’ariyah. Schoun juga memperlihatkan argumen penolakan Asy’ariyah pada nature segala sesuatu misalnya api yang panas dan membakar tertolak. Seandainya api tidak mempunyai nature demikian maka Tuhan tidak akan memerintah api menjadi dingin (QS 21:69).

Pengalaman fisika

Pandangan Mu’tazilah selaras dengan sains secara umum. Sungguh pun demikian, penerimaan kausalitas dan Mu’tazilah tidak berarti harus membuang Asy’ariyah seperti saat ini yaitu menerima Asy’ariyah tetapi mengkafirkan serta menolak Mu’tazilah. Atomisme Asy’ariyah yang sepenuhnya berangkat dari teks kitab suci, orisinal, dan unik. Al-Baqillani menyatakan bahwa alam terdiri dari atom-atom yang tidak mempunyai ukuran, homogen, dan berjumlah berhingga.

Meskipun tak berdimensi atom-atom terpadu membentuk benda yang berdimensi. Atom-atom juga tercipta dan musnah seketika karenanya tidak ada konsep jarak. Tuhan terus menerus mencipta (QS 30:11) atom-atom dengan sifat yang sama selama Dia menginginkan benda yang sama. Ternyata gagasan ini dekat dengan atomisme kuantum. Mu’tazilah dan Asy’ariyah berseberangan tetapi keduanya juga menawarkan kebenaran. Fisika dapat mendamaikan antara kausalitas yang mengikat Tuhan ala Mu’tazilah dan penciptaan serta pemusnahan oleh kesewenang-wenangan Tuhan versi Asy’ariyah.

Dunia makroskopik memenuhi hukum kausalitas deterministik Newtonian sedangkan di dunia mikro berlaku hukum probabilistik. Mekanika klasik tidak mampu mendiskripsikan perilaku mikro sedangkan mekanika kuantum tidak efektif menjelaskan penampakan makro. Keduanya dikaitkan oleh prinsip korespondensi Bohr, wilayah makro merupakan limit ekstrem gambaran mikro. Keduanya mampunyai domain berbeda, saling melengkapi, dan dalam bahasa teologi sama-sama memerlukan kehadiran aktor tunggal yaitu Tuhan.

Kemunculan-Nya saja yang berbeda, pada wilayah makro muncul dalam bentuk sunnatullah yang tetap, sedangkan di wilayah mikro dalam ketentuan yang tak dapat dipastikan kecuali kemungkinan-Nya. Selanjutnya untuk mengejar ketertinggalan dalam banyak aspek kita perlu membuat breakthrough ala Bacon yang sangat anti-metafisika dan logika Aristotelian yang hanya bertumpu pada silogisme dan menggantinya dengan metoda ilmiah yang bertumpu pada eksperimen.

Caranya, kita luruskan pemahaman teologi seperti uraian di depan dan berhenti ramal-meramal ala paranormal dan sejenisnya yang sulit dikonfirmasi oleh akal sehat. Dalam keadaan seperti saat ini, pemilu depan kita tidak perlu memilih presiden tetapi pengelola sampah. Kita butuh sosok yang memahami betul jenis, manajemen, dan proses daur ulang, serta mau berkotor-kotor menangani sampah, baik demokrasi, kebebasan, maupun tradisi sampah. Tentu, agar negeri ini tidak menjadi keranjang sampah.

Mu’taziliyah

Dari MyQ Wiki

Langsung ke: panduan arah, cari

Pendahuluan

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT akhirnya makalah ini dapat kami selesaikan dengan cukup baik dengan beberapa keterbatasan sumber pengetahuan yang kami dapat mengenai paham Mu’tazilah ini. Adapun kami akan memaparkan beberapa menganai paham yang pertama kali muncul di Basra ,Irak ini .

Sejarah Kemunculan

Sejarah munculnya mu’tazilah kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah ( IraQ ), pada abad ke – 2 Hijriyah , antara tahun 105 – 110 H , tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifa Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal . nah kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru , dan akhirnya golongan mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. Hingga kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah )(1).

Oleh karena itu, tidaklah aneh bila kaidah nomor satu mereka berbunyi: “Akal lebih didahulukan daripada syariat (Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’, pen) dan akal-lah sebagai kata pemutus dalam segala hal. Bila syariat bertentangan dengan akal –menurut persangkaan mereka– maka sungguh syariat tersebut harus dibuang atau ditakwil(2).(Ini merupakan kaidah yang batil, karena kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka Allah akan perintahkan kita untuk merujuk kepadanya ketika terjadi perselisihan. Namun kenyataannya Allah perintahkan kita untuk merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana yang terdapat dalam Surat An-Nisa: 59. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka Allah tidak akan mengutus para Rasul pada tiap-tiap umat dalam rangka membimbing mereka menuju jalan yang benar sebagaimana yang terdapat dalam An-Nahl: 36. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka akal siapakah yang dijadikan sebagai tolok ukur?! Dan banyak hujjah-hujjah lain yang menunjukkan batilnya kaidah ini.

Mengapa disebut Mu’tazilah ? Mu’tazilah, secara etimologis bermakna: orang-orang yang memisahkan diri. Sebutan ini mempunyai suatu kronologi yang tidak bisa dipisahkan dengan sosok Al-Hasan Al-Bashri, salah seorang imam di kalangan tabi’in.Asy-Syihristani t berkata: (Suatu hari) datanglah seorang laki-laki kepada Al-Hasan Al-Bashri seraya berkata: “Wahai imam dalam agama, telah muncul di zaman kita ini kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik). Dan dosa tersebut diyakini sebagai suatu kekafiran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama, mereka adalah kaum Khawarij. Sedangkan kelompok yang lainnya sangat toleran terhadap pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik), dan dosa tersebut tidak berpengaruh terhadap keimanan. Karena dalam madzhab mereka, suatu amalan bukanlah rukun dari keimanan dan kemaksiatan tidak berpengaruh terhadap keimanan sebagaimana ketaatan tidak berpengaruh terhadap kekafiran, mereka adalah Murji’ah umat ini. Bagaimanakah pendapatmu dalam permasalahan ini agar kami bisa menjadikannya sebagai prinsip (dalam beragama)?” Al-Hasan Al-Bashri pun berpikir sejenak dalam permasalahan tersebut. Sebelum beliau menjawab, tiba-tiba dengan lancangnya Washil bin Atha’ berseloroh: “Menurutku pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, namun ia juga tidak kafir, bahkan ia berada pada suatu keadaan di antara dua keadaan, tidak mukmin dan juga tidak kafir.” Lalu ia berdiri dan duduk menyendiri di salah satu tiang masjid sambil tetap menyatakan pendapatnya tersebut kepada murid-murid Hasan Al-Bashri lainnya. Maka Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Washil telah memisahkan diri dari kita”, maka disebutlah dia dan para pengikutnya dengan sebutan Mu’tazilah(3). Pertanyaan itu pun akhirnya dijawab oleh Al-Hasan Al-Bashri dengan jawaban Ahlussunnah Wal Jamaah: “Sesungguhnya pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik) adalah seorang mukmin yang tidak sempurna imannya. Karena keimanannya, ia masih disebut mukmin dan karena dosa besarnya ia disebut fasiq (dan keimanannya pun menjadi tidak sempurna) {4}.

Asas dan landasan Mu’tazilah Mu’tazilah mempunyai asas dan landasan yang selalu dipegang erat oleh mereka, bahkan di atasnya-lah prinsip-prinsip mereka dibangun.Asas dan landasan itu mereka sebut dengan Al-Ushulul-Khomsah (lima landasan pokok). Adapun rinciannya sebagai berikut dan sekaligus kami iringi dengan bantahan cara pemahaman mereka mengenai azaz dan landasan keislaman mereka , sebagai berikut : 1. Tauhid Yang mereka maksud dengan At-Tauhid adalah mengingkari dan meniadakan sifat-sifat Allah, dengan dalil bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti telah menetapkan untuk masing-masingnya tuhan, dan ini suatu kesyirikan kepada Allah, menurut mereka(5). Oleh karena itu mereka menamakan diri dengan Ahlut-Tauhid atau Al-Munazihuuna lillah (orang-orang yang mensucikan Allah). Bantahannya : 1. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Dalil ini sangat lemah, bahkan menjadi runtuh dengan adanya dalil sam’i (naqli) dan ‘aqli yang menerangkan tentang kebatilannya. mensifati dirinya sendiri dengan sifat-sifat Adapun dalil sam’i bahwa Allah yang begitu banyak , padahal Dia Dzat Yang MahaTunggal. Allah berfirman:

Sesungguhnya adzab Rabbmu sangat dahsyat. Sesungguhnya Dialah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali), Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, Yang mempunyai ‘Arsy lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Buruuj: 12-16).

“Sucikanlah Nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, Yang Menciptakan dan Menyempurnakan (penciptaan-Nya), Yang Menentukan taqdir (untuk masing-masing) dan Memberi Petunjuk, Yang Menumbuhkan rerumputan, lalu Ia jadikan rerumputan itu kering kehitam-hitaman.” (Al-A’la: 1-5). Adapun dalil ‘aqli: bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari yang disifati, sehingga ketika sifat-sifat tersebut ditetapkan maka tidak menunjukkan bahwa yang disifati itu lebih dari satu, bahkan ia termasuk dari sekian sifat yang dimiliki oleh dzat yang disifati tersebut. Dan segala sesuatu yang ada ini pasti mempunyai berbagai macam sifat … “ 2. Menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluq bukanlah bentuk kesyirikan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Ar-Risalah Al-Hamawiyah: “Menetapkan sifat-sifat Allah tidak termasuk meniadakan kesucian Allah, tidak pula menyelisihi tauhid, atau menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.” Bahkan ini termasuk konsekuensi dari tauhid al-asma wash-shifat. Sedangkan yang meniadakannya, justru merekalah orang-orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan. Karena sebelum meniadakan sifat-sifat Allah tersebut, mereka terlebih dahulu menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Lebih dari itu, ketika mereka meniadakan sifat-sifat Allah yang sempurna itu, sungguh mereka menyamakan Allah dengan sesuatu yang penuh kekurangan dan tidak ada wujudnya. Karena tidak mungkin sesuatu itu ada namun tidak mempunyai sifat sama sekali. Oleh karena itu Ibnul-Qayyim rahimahullah di dalam Nuniyyah-nya menjuluki mereka dengan ‘Abidul-Ma’duum (penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya). Atas dasar ini mereka lebih tepat disebut dengan Jahmiyyah, Mu’aththilah, dan penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya.

2. Al – ‘adl ( Keadilan ) Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu datang dari Allah, sedangkan . DalilnyaIkejelekan datang dari makhluk dan di luar kehendak (masyi’ah) Allah adalah firman Allah : “Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan.” (Al-Baqarah: 205) “Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” (Az-Zumar: 7)Menurut mereka kesukaan dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga mustahil bila Allah tidak suka terhadap kejelekan, kemudian menghendaki atau menginginkan untuk terjadi ( mentaqdirkannya ) oleh karena itu merekan menamakan diri mereka dengan nama Ahlul ‘Adl atau Al – ‘Adliyyah .

Bantahannya :

As-Syaikh Yahya bin Abil – Khair Al – ‘imrani berkata : kita tidak sepakat bahwa kesukaan dan keinginan itu satu , dasarnya adalah dalam Al – Qur’an Allah berfirman :

“ Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai Orang – orang kafir “

Padahal kita semua tau Allah – lah yang menginginkan adanya orang kafir tersebut dan Dia – lah yang menciptakan mereka(6). Terlebih lagi Allah telah menyatakan bahwa sanya apa yang dikehendaki dan dikerjakan hamba tidak lepas dari kehendak dan ciptaan – Nya , Allah berfirman :

“ Dan kalian tidak akan mampu menghendaki ( jalan itu ) , kecuali bila dikehendaki Allah .” ( Al – Ihsan : 30 ) .

“ Padahal Allah – lah yang meciptakan kalian dan yang kalian perbuat” (Ash-Shaafaat : 96 ) . Dari sini kita tau bahwa ternyata istilah keadilan itu mereka jadikan sebagai yang merupakan bagian dari takdir Allah , kedok untuk mengingkari kehendak Allah . atas dasar inilah mereka lebih pantas dikatakan Qadariyyah , Majusyiah , dan orang – orang yang zalim .

3. Al-Wa’du Wal-Wa’id

Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi Allah untuk memenuhi janji-Nya (al-wa’d) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam Al-Jannah, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-wa’id) bagi pelaku dosa besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar, kekal abadi di dalamnya, dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya. Karena inilah mereka disebut dengan Wa’idiyyah.

Bantahannya : 1. Seseorang yang beramal shalih (sekecil apapun) akan mendapatkan pahalanya (seperti yang dijanjikan Allah) sebagai karunia dan nikmat dari-Nya. Dan tidaklah pantas bagi makhluk untuk mewajibkan yang demikian itu , karena termasuk pelecehan terhadap Rububiyyah-Nya dan sebagai bentuk keraguan kepada Allah terhadap Firman – Nya :

“ Sesungguhnya Allah tidak menyelisihi janji – Nya “ ( Ali-Imran : 9 ) Bahkan Allah mewajibkan bagi diri – Nya sendiri sebagai keutamaan untuk para hamba – Nya . Adapun orang-orang yang mendapatkan ancaman dari Allah karena dosa besarnya (di bawah syirik) dan meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, maka sesuai dengan kehendak Allah. Dia Maha berhak untuk melaksanakan ancaman-Nya dan Maha berhak pula untuk tidak melaksanakannya, karena Dia telah mensifati diri-Nya dengan Maha Pemaaf, Maha Pemurah, Maha Pengampun , Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang . terlebih lagi Dia telah menyatakan :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (bila pelakunya meninggal dunia belum bertaubat darinya) dan mengampuni dosa yang di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48). 2. Adapun pernyataan mereka bahwa pelaku dosa besar (di bawah syirik) kekal abadi di An-Naar, maka sangat bertentangan dengan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 48 di atas, dan juga bertentangan dengan sabda Rasulullah r yang artinya: “Telah datang Jibril kepadaku dengan suatu kabar gembira, bahwasanya siapa saja dari umatku yang meninggal dunia dalam keadaan tidak syirik kepada Allah niscaya akan masuk ke dalam al-jannah.” Aku (Abu Dzar) berkata: “Walaupun berzina dan mencuri?” Beliau menjawab: “ Walaupun berzina dan mencuri “ ( HR. Al-Bukhori Dan muslim dari sahabat Abu Dzar Al-Ghiffari ) namun meskipun mungkin mereka harus masuk neraka terlebih dahulu.

4. Suatu keadaan di antara dua keadaan (Posisi di antara 2 posisi ) Yang mereka maksud adalah, bahwasanya keimanan itu satu dan tidak bertingkat-tingkat, sehingga ketika seseorang melakukan dosa besar (walaupun di bawah syirik) maka telah keluar dari keimanan, namun tidak kafir (di dunia). Sehingga ia berada pada suatu keadaan di antara dua keadaan (antara keimanan dan kekafiran). Bantahannya : 1. Bahwasanya keimanan itu bertingkat-tingkat, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah :

“ Dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya Kepada mereka , maka bertambahlah keimanan mereka “ ( Al – Anfal : 2 ) Dan juga firman-Nya : “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir “ ( At-Taubah : 124-125 )

Dan dalam Firman-Nya yang lain juga :

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” (Ali ‘Imran: 173)

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)…” ( Al – Baqarah : 260 ) Rasulullah bersabda : “Keimanan tu memiliki ( mempunyai ) enam puluh sekian atau tujuh puluh sekian cabang / tingkat , yang paling utama adalah yang paling utama ucapan “Laa ilaaha illallah”, dan yang paling rendah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan sifat malu itu cabang dari iman.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah ) . 2. Atas dasar ini, pelaku dosa besar (di bawah syirik) tidaklah bisa dikeluarkan dari keimanan secara mutlak. Bahkan ia masih sebagai mukmin namun kurang iman, karena Allah masih menyebut dua golongan yang saling bertempur (padahal ini termasuk dosa besar) dengan sebutan orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang yang beriman saling bertempur, maka damaikanlah antara keduanya…” (Al-Hujurat: 9) 5. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Di antara kandungan landasan ini adalah wajibnya memberontak terhadap pemerintah (muslim) yang zalim. Bantahannya : Memberontak terhadap pemerintah muslim yang zalim merupakan prinsip sesat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Sebagaimana Allah berfirman :

““Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (pimpinan) di antara kalian.” (An-Nisa: 59) Rasulullahbersabda: “Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku, dan sungguh akan ada di antara mereka yang berhati setan namun bertubuh manusia.” (Hudzaifah berkata): “Wahai Rasulullah, apa yang kuperbuat jika aku mendapati mereka?” Beliau menjawab: “Hendaknya engkau mendengar (perintahnya) dan menaatinya, walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil.” (HR. Muslim, dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman){7}.

IV. Sesatkah Mu’tazilah ?

Dari lima landasan pokok mereka yang batil dan bertentangan dengan Al Qur’an dan As-Sunnah itu, sudah cukup sebagai bukti tentang kesesatan mereka. Lalu bagaimana bila ditambah dengan prinsip-prinsip sesat lainnya yang mereka punyai, seperti: – Mendahulukan akal daripada Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ Ulama. – Mengingkari adzab kubur, syafa’at Rasulullah untuk para pelaku dosa, ru’yatullah (dilihatnya Allah) pada hari kiamat, timbangan amal di hari kiamat, Ash-Shirath (jembatan yang diletakkan di antara dua tepi Jahannam), telaga Rasulullah di padang Mahsyar, keluarnya Dajjal di akhir zaman, telah diciptakannya Al-Jannah dan An-Naar (saat ini), turunnya Allah ke langit dunia setiap malam, hadits ahad (selain mutawatir), dan lain sebagainya. – Vonis mereka terhadap salah satu dari dua kelompok yang terlibat dalam pertempuran Jamal dan Shiffin (dari kalangan shahabat dan tabi’in), bahwa mereka adalah orang-orang fasiq (pelaku dosa besar) dan tidak diterima persaksiannya. Dan engkau sudah tahu prinsip mereka tentang pelaku dosa besar, di dunia tidak mukmin dan juga tidak kafir, sedangkan di akhirat kekal abadi di dalam an-naar. – Meniadakan sifat-sifat Allah, dengan alasan bahwa menetapkannya merupakan kesyirikan. Namun ternyata mereka mentakwil sifat Kalam (berbicara) bagi Allah dengan sifat Menciptakan, sehingga mereka terjerumus ke dalam keyakinan kufur bahwa Al-Qur’an itu makhluq, bukan Kalamullah. Demikian pula mereka mentakwil sifat Istiwaa’ Allah dengan sifat Istilaa’ (menguasai). Kalau memang menetapkan sifat-sifat bagi Allah merupakan kesyirikan, mengapa mereka tetapkan sifat menciptakan dan Istilaa’ bagi Allah?! (8)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s