Posted on

Berfikir Adalah Makanan Tuhan, Makanan Tuhan Adalah Berfikir

Pekanbaru 08.34 BBWI Minggu tgl, 14 Juni 2009

Created by : M. Imron

Image_5 (Copy) Semua mahluk didunia sebagai ciptaan dari TUHAN memiliki ruang, masa dan waktu, proses ini adalah sumber dan hakekat mengapa semua mahluk manusia, alam dan isinya, jin, syetan,malaikat menurut TUHAN akan mati. Berarti esensi mati adalah terbatas dan memiliki ruang , masa dan waktu. Maka karena itulah disebut sebagai mahluk,lantas bagaimana yang disebut Khalik, yang pasti tidak terbatas pada ruang, masa dan waktu, inilah esensi Khalik atau sang pencipta yang maha Tunggal/Satu/Titik. Sehingga sifat dan prilakuNya adalah tidak terbatas pada esensiNya itu sendiri. Ini berarti esensiNya memiliki sesuatu yang serba maha dan super.

TUHAN telah berfirman bahwa setiap mahluk yang diciptakanNya pasti akan mati.Proses kematian terjadi karena ada unsur ruang, masa dan waktu. Pada kondisi seperti inilah yang dikatakan sebagai sesuatu yang terbatas dan serba kekurangan, maka terjadilah sunatullah kematian itu sendiri pasti akan tiba. Manusia, binatang dan tumbuhan semua pasti mengalami proses kematian, karena karena takdirnya adalah terbatas dan memiliki proses ruang, masa dan waktu.

Manusia, binatang dan tumbuhan untuk bisa bertahan hidup salah satunya adalah karena adanya proses makan. Makan dan makanan sebagai sumber dari sebuah proses going on, pass off, passed off, take place, taken place, taking place, tranpire transpiring hingga pada masa dan usia tertentu. Esensi ini tidak dimiliki oleh esensi TUHAN. Subtansi dan esensi TUHAN bisa berlangsung hidup dan tidak pernah akan mati, sirna, tercipta, terlahir, tertandingi hingga memiliki competition dan rivalry, hal ini karena TUHAN memiliki esensi yang tidak dan tak terbatas karena esensiNya memiliki sebuah proses alur hidup, daur hidup dan metabolisme tubuh yang bersumber dari makanan yang tidak memiliki batas ruang, masa dan waktu yaitu PikiranNya TUHAN itu sendiri. Inilah hakekat dan kehebatan TUHAN hingga dia bisa berlangsung dalam sebuah proses terus menerus straight, direct, straight away, immediately, continue, keep on, tidak pernah mati dan akan mati.

Pikiran TUHAN sebagai kekuatan TUHAN, sebagai esensi terciptaNya TUHAN dan sekaligus sebagai proses makanan TUHAN. Maka TUHAN terus menerus berfikir dan berfikir kepada diriNya TUHAN sebagai esensiNya, sebagai makanan kesukaanNya yang selalu dimakan dan dimakan hingga tidak pernah kenyang dan lapar, tidak pernah sakit dan muntah, tidak pernah habis dan kurang, tidak pernah segalanya. Karena prose berfikir TUHAN sebagai esensi diriNya TUHAN yang benar-benar tidak memiliki dan tergantung pada batas ruang, masa dan waktu. Sehingga esensi, sebuah proses, wujud, ruang, masa, waktu, sebagai esensi itu sendiri tida ada, tidak adanya karena ketidak mampuannya sebagai mahluk menggambarkan esensi dari sang pencipta /sang Khalik.

Berbicara esensi TUHAN sesungguhnya tidak bisa dengan tulisan seperti ini, dengan bicara, seminar, sharing, diskusi, panel, simposium, kuliah, problem solving, handling objecting, karena hal inihanya akan mampu dan mencerna dari sisi sebuah nama-nama dan sifat-sifat TUHAN itu sendiri. Yang sama sekali tidak menyentuh subtantively, beneath it all, came true, coming true dan hakekat dari unsur TUHAN itu sendiri yang sebenarnya dari yang benar kebenaran esensi TUHAN. Maka wajar sekali kalau TUHAN telah memperingatkan kepada manusia sebagai mahluk agar tidak usah memikirkan tentang esensiNya.        

Larangan TUHAN itu sendiri pada hakekatnya adalah merupakan sebuah petunjuk bagai mahluk yang berfikir, agar tidak memikirkan DzatNya, DiriNya, KetunggalanNya, KeesaanNya sebelum sang mahluk mampu berfikir dan memikirkan ciptaanNya secara totalitas hingga dirinya sebagai mahluk mampu berfikir tentang dirinya secara jasmaniku dan rohaniku hingga dirinya sebagai mahluk mampu mengatur dan mengendalikan dirinya sendiri dengan kekuatan pikirannya hingga berfikir bahwa dirinya sudah tidak memiliki batas, ruang, masa dan waktu dalam proses berfikirnya hingga dirinya sudah tidak tahu bahwa dirinya sudah lapar, haus,yang tidak terbatas pada masa, ruang dan waktu. Pada saat seperti inilah sang mahluk telah mampu berfikir tentang esensi TUHANNya sebagai realitas sang penciptanya.

Diriku telah tahu bagaimana nabi Ibrahim yang memiliki keinginan pada TUHAN untuk di ijinkan melihat dzatNya. Apa yang terjadi? Gunung dan alam sedirikurnya hangus terbakar tidak mampu menampung esensiNya TUHAN yang tidak terbatas pada masa, ruang dan waktu. Hal ini bagaimana mungkin Nabi Ibarhim dan gunung esensinya adalah memiliki batas masa, ruang dan waktu dapat menerima sesuatu yang tidak terbatas dan sekaligus sebagai pencipta dari esensi batas, masa, ruang dan waktu mampu menerima dan melihat dengan kasat mata yang masih terbatas.

Untuk berfikir, melihat,mencerna, membahas, menikmati dari esensi TUHAN sebagai sang pencipta bukan berati tidak bisa. Sebab kalau tidak bisa ini menunjukkan bahwa pantas sekali kalau pada hakekatNya TUHAN itu tidak ada. Padahal nyata-nyata TUHAN itu pasti dan wajib ada adaNya. Lantas bagaimana caranya.

Untuk dapat melihat, mencerna, merasakan, membahas, menikmati indahNya dari esensi TUHAN sebagai mahluk maka harus melenyapkan seluruh identitas sifat kemahlukannya kepada TUHAN dalam satu proses pemikiran berdzikir pada hakekat dan esensiNya TUHAN. Cara berfikir sang mahluk dalam hal ini haruslah benar-benar berfikir dengan kekuatan pikirannya sebagai mahluk yang didukung oleh jasmaniku, rohaniku, unsur jasmaniku dan seluruh unsur yang terkandung dalam rohaniku sudah dipastikan mendukung pikiran untuk berdzikir dan berfikir tentang esensiNya TUHAN. Apabila ada satu unsur yang tidak mendukung walau setitik maka akan tersesatlah sang mahluk tersebut dalam proses ini. Bisa-bisa tanpa disadari syetan telah menjelma sebagai TUHAN, ada teman, tetangga atau manusia lain justru meyalahkan diriku dan mengira diriku sebagai manusia yang aneh dan tidak normal, bahkan juga dapat menimbulkan perpecahan sesamat ummat manusia yang seagama dan sealiran hingga mereka akhirnya dapat membuat aliran baru. Salah satunya adalah unsur sifat riya’, ujub, suma’ah, iri, dengki,hasud, bangga diri, sombong, tamak, rakus, dan lainnya.

Pada saat seperti inilah terjadi suatu kondisinya yang sangat amat indah, bahagia, senang, contented, comfortable,happiness, joy, pleasure, be fond of, be willing, be apt to yang tidak bisa dibayangkan nikmatnya dan indahnya. Tanpa diriku sadari secara instan rasa lapar, haus, sakit, menderita dan lainnya telah sirna dan lenyap karena pengaruh tersentralisasinya esensi sang mahluk telah dalam sebuah proses mencerna, merasakan dan menikmati indahNya TUHAN, walau proses ini masih jauh dari proses untuk melihat Dzat dan esensi TUHAN itu sendiri. Ini adalah sebuah proses latihanku yang harus dilakukan secara terus menerus dan berlangsung sebagai mahluk hingga diriku terlepas dari seluruh esensi sifat dan tabiat kemahlukan itu sendiri.

Proses sensitivit sebagai proses berlatih dalam berfikir untuk mencapai mahluk manusia sebagai mahluk yang sempurna maka proses ini harus dilakukan untuk menyeimbangi diriku dalam proses pergaulan hidup yang serba materealistis.

Kunci dan kiat sukses dalam proses berfikir tentang esensi TUHAN adalah hadirnya dan memilikinya sifat dan rasa bersyukur –ikhlas terhadap segala realitas yang dialami dalam proses kehidupannya. Dengan dua sifat ini maka pikiran diriku dalam proses “smart be thingking” tidak menjadi “stupidly be thingking”. Inilah sebuah proses berfikir dimana pikiran sebagai makanan karena diriku sadari dalam esensi diriku bahwa pikiran TUHAN adalah makanan TUHAN, ini berarti bahwa realitas sang mahluk agar mampu menembus pikiran TUHAN maka diriku harus setiap saat makan pikiranku sebagai proses berfikir dari sebuah esensi problema kehidupan. Hanya dengan cara inilah kedamaian hidup, kebahagian hidup, ketengan hidup akan mampu diriku dapatkan bahkan diriku akan mampu menyembuhkan rasa sakit didalam diriku baik jasmaniku maupun rohanikuku.

Proses berfikir TUHAN secara instan dan simultan adalah tidak pernah berhenti dan menemui masalah sedetikpun, proses berfikir TUHAN selalu dan memiliki makna dan arti dari sudut dan semua sisi bagi Dzat TUHAN itu sendiri juga bagi sang mahluk, setitikpun tidak ada yang tidak memiliki conection, relationship, cantact antara sang pencipta dengan mahluk, bahkan dengan mahluk yang lainnya, padahal secara kasat mata manusia hal tersebut tidak memiliki realitas hubungan. Proses berfikir TUHAN yang tidak terbatas pada masa, ruang dan waktu semuanya yang difikirkanNya memiliki satu kesatuan sebuah kekuatan dari esensi Dzat TUHAN itu sendiri.

Maka pada hakektnya berfikir secara rasional dapat menyebakan rasa lapar pada unsur jasmani bahkan penyakit tertentu pada jasmani dan rohani kita. Sedang berfikir dengan kekuatan rohani saja dapat pula menyebabkan jasmani kita sakit dan mengidap penyakit tertentu, seperti flu, demam, pilek, dll. Ha ini karena rohani kita tidak peduli akan jasmani kita. Berfikir yang benar adalah dengan memperhatikan esensi masing-masing dari unsur jasmani dan rohani secara bersama sama untuk mencapai dari hal yang kita pikirkan dan juga selalu memohon petunjuk dari TUHAN. Dengan demikin proses berfikir seperti ini dapat mengobati seluruh penyakit yang ada dalam jasmani dan rohani kita. Karena hadirnya penyakit dalam diri kita disebabkan tidak terjadinya keseimbangan proses jasmani dengan unsur rohani kita.

Proses penyakit dalam jasmani dan rohani kita terjadi juga karena faktor tidak terkendalinya unsur-unsur jasmani dan rohani oleh pikiran kita. Maka kunci utama agar jasmani dan rohani kita tidak sakit adalah terletak pada pikiran kita dalam cara proses berfikir tentang sesuatu permasalahan itu sendri. Ciri-ciri berfikir yang benar adalah semakin kita berfikir semakin kita suka dan bahagia. Apabila kita dalam proses berfikir membahas sesuatu masalah kehidupan ternyata semakin kita pikirkan justru kita tidak bahagia dan senang maka berarti dalam proses berfikir kita ada yang salah atau tidak bersatunya unsur jasmani dan rohani kita terfacus pada masalah yang kita sedang pikirkan. Inilah yang disebut sebagai berfikir secara rasional, tetapi akan lebih sempurna lagi dalam proses berfkir rasional tadi dihadirkan TUHAN sebagai sumber kekuatan pikiran kita dalam berfikir agar pikiran kita tidak berhenti pada proses berfkir seang berjalan. Mengapa demikian, karena TUHAN memiliki proses berfikir yang tidak pernah berhenti dan terbatas pada masa, ruang dan waktu sebab berfikirNya adalah makanan dari TUHAN dan makanan TUHAN adalah berfikir.SubhanTUHAN, Alkhamdulillah, TUHANu Akbar, Laa Ilaha IllTUHAN, Astagfirullah…… maafkan aku dalam proses berfikir ini salah menulis tentang esensi dan DzatMu yaa…. TUHAN.

———————-EXPLORASI PIKIRANKU MENUJU TUHAN———————–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s