Posted on

Menjalani Kenyataan Yang Tidak Sesuai Harapan

            Cita-cita merupakan harapan dari setiap orang yang sering didengungkan sejak anak mulai bisa bicara sering ditanya oleh orang tuanya, “nanti kalau besar jadi apa?” beragam jawaban bermunculan. Mulai dari dokter, polisi, presiden, pilot dll. Sangat manusiawi sekali kalau ditanya cita-cita anak kecil selalu menyebut yang indah-indah. Hal ini terjadi bukan karena si anak mau jadi dokter, polisi, pilot atau apapun. Kenyataan ini merupakan harapan dari orang tuanya untuk sang anak tercinta. Dengan demikian jelas bahwa sang anak telah dipengaruhi oleh orang tuanya untuk menjadi dokter. Sebab orang tuanya selalu menyebut dokter-dokter-dokter dan dokter selalu. Ini adalah sebuah doktrinisasi sebuah harapan.

            Waktu terus berjalan, kehidupan terus berputar, kejadian dan kenyataan hidup silih berganti. Harapan jadi dokter sering berganti sesuai bergulirnya waktu dan kenyataan hidup. Doktrinisasi sebuah harapan menjadi dokter bisa berubah, ternyata sang anak ingin mencita-citakan menjadi politisi. Hingga kuliah jurusan sosial politik serta menjadi aktifis civitas akademika dalam dunia politik. Wisuda berlalu, tiba-tiba sang ayah tercinta meniggal dunia karena sakit kanker dalam usia 47 th. Kenyataan hidup berubah, sang anak harus membantu perekonomian keluarga yang mulai serat. Rasa tanggung jawab dan bakti pada orang tua adalah segalanya. Maka sang anak dalam pikirannya adalah cari kerja dan cari kerja terus. Hingga akhirnya dapat pekerjaan menjadi salesman produk makanan ringan.

            Dunia marketting dan sales seiring dengan waktu telah mendarah danging hingga menjadi sebuah habit dalam dirinya. Pada puncak kariernya dia dalam usia muda telah mejadi seorang senior manager. Ini namanya sebuah harapan tidak selamanya sama dengan kenyataan dan kenyataan tidak selamanya sesuai dengan harapan. Jadi yang terpenting adalah bagaimana caranya hidup dalam kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan hingga akhirnya kita dapat menjalaninya dengan rasa tanpa setitikpun dipaksa atau terpaksa dan bahkan kita dapat menjiwainya dengan  sangat amat luar biasa dari cara kita memaknainya fakta dan realita menjadi sama dengan cita-cita. Maka saatnya harapan senantiasa sama dengan realita.

            Kenyataan yang tidak sama dengan harapan tercipta karena didetik pertama pikiran kita berfikir sering tidak sama dengan didetik hari kedua, bulan kedua bahkan tahun kedua hingga akhirnya terjadi hasil  yang tidak sama. Konsisten untuk konsistensi dalam berfikir tentang harapan harus disamakan dengan perbuatan saat ini hingga saat akan datang. Kekuatan pikiran, inovasi pikiran dan kreasi pikiran harus disamakan dan ditingkatkan hingga kita dapat berfikir sama dengan harapan.  Konsistensi pikiran dalam berfikir akan menghambat seluruh halangan, rintangan dan hal-hal yang dapat menyebabkan kegagalan. Halangan dapat menyebabkan kegagalan karena hilangnya konsistensi dalam inovasi dan kreasi pikiran. Saat inilah harapan terjadi tidak sesuai dengan kenyataan. Sebenarnya kita menjadi sangat bodoh sekali sebagai manusia kalau harapan tidak sama dengan kenyataan terjadi karena takdir illahi. Berarti takdir Illahi terjadi karena pikiran kita telah membunuh atau menghidupkannya dari sesuatu yang disebutkan sebagai takdir. ( created by : M. Imron )

           

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s