Posted on

Membicarakan Iman

 

Iman & Kepercayaan yang Menjadi Tanda Tanya

Judul: Silence (Terjemahan)

Penulis: Shusaku Endo

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun: Desember 2008

Tebal: 304 hlm; 20 cm

ISBN-13:978-979-22-4037-5

Iman dan kepercayaan menjadi satu tanda tanya besar buat Sebastian Rodriguez, pastor asal Portugis yang berniat mengabdikan hidup mengabarkan keberadaan Tuhan. Untuk alasan satu ini, Rodriguez, bersama sejumlah pastor asal Eropa lain pun tergerak berangkat ke Jepang. Mengapa?

Sejak menjelang abad 16, pastor-pastor berlayar dari daratan Eropa menuju kawasan Asia, termasuk Jepang, yang dinilai belum ber-Tuhan. Mereka menyebarkan ajaran Kristus. Pada awal kedatangan, mereka mendapat sambutan hangat masyarakat, juga dari kekaisaran Jepang. Dengan cepat, para pastor mengajarkan agama, mendirikan gereja sekaligus (mengutip penulis dalam bukunya) "mengKristenkan yang kafir".

Sayang, harmonisasi hubungan antaragama ini mendadak hancur. Tanpa alasan yang jelas, kekaisaran Jepang memprotes keras proses "peng-agama-an" penduduknya.

Sejumlah pastor tiba-tiba dilarang mengabarkan ajaran agama pada penduduk lokal. Kaisar tak segan menyiksa dan membunuh pelan-pelan pengikut Kristen untuk menghentikan panggilan hati para pastor. Bahkan, pastor pun tak lepas dari hukuman setelah gereja-gereja di Jepang mulai dibumihanguskan satu-satu. Hingga suatu hari, gereja Eropa mendapati seorang pastor ternama dan dihormati, Christovao Ferreira murtad.

Memang, Ferreira bukan pastor pertama yang dikabarkan murtad. Yang disesalkan gereja Eropa, pastor asal Portugis itu disebut-sebut gurunya para pastor.

Tidak semua orang percaya akan pengingkaran iman Ferreira. Bahkan Rodriguez, murid Ferreira, masih bertanya-tanya. Benarkah seorang pastor, guru sekaligus orang terhormat layaknya Ferreira bisa ingkar Tuhan karena tidak tahan siksaan dunia? Rodriguez coba menemukan jawaban.

Jepang ternyata jadi ujian berat buat Rodriguez. Tak mudah buatnya mengembalikan Kristen ke Jepang, menghibur hati para umat yang tersisa, termasuk bertemu Ferreira. DIa harus menghadapi cobaan demi cobaan yang hampir meluluhlantakkan iman. Rodriguez jadi saksi sekaligus korban penyiksaan kekaisaran Jepang yang menolak mentah-mentah keberadaan pastor Eropa di Jepang.

Di masa-masa sulit ini, Rodriguez mulai kehilangan arah. Dia melihat begitu banyak umat yang disiksa dengan kekejaman yang teramat luar biasa, karena mempertahankan iman. Rodriguez kagum sekaligus menyesali diri karena ia tak bisa berbuat banyak untuk pemegang teguh iman seperti Mokichi dan Ichizo, yang mati pelan-pelan setelah disalibkan dan dihantam ombak laut. Benarkah Ferreira murtad karena takut

Ia pun mempertanyakan keberadaan Tuhan … Di mana Dia? Mengapa Tuhan tidak berusaha menyelamatkan orang-orang yang begitu mencintai-Nya? Mengapa Tuhan diam, sementara penghiburannya belum bisa meringankan siksaan yang dialami umat yang seiman dengannya.

"… Adakah yang lebih gila daripada ini? Inikah yang namanya mati sebagai martir? Kenapa kau diam saja? Lelaki bermata satu itu mati – untukmu. Kau seharusnya tahu. … Tetapi kau memalingkan muka seperti tak peduli. Ini… aku tak sanggup menahankannya." (2008: 193)

Di tengah kegalauan, Rodriguez mencoba terus percaya dan berjuang menemukan Ferreira.

"Tuhan tidak akan menelantarkan kalian selamanya. Dialah yang membasuh luka-luka kita; tangannyalah yang menyeka darah kita. Tuhan tidak akan bungkam selamanya." (2008: 173)

Melalui karya kontroversialnya, Silence, Shusaku Endo membawa kita pada masa-masa Jepang di zaman Edo, saat Macan Asia itu menapak dunia modern termasuk proses keterbukaan dengan dunia luar. Dia berkisah tentang cobaan yang harus dihadapi setiap manusia dalam mempertahankan keyakinan, termasuk iman, bahkan di tempat di mana iman kita tidak diterima orang lain.

Rodriguez, juga Ferreira hanyalah sedikit korban dari egoisme sejumlah manusia, termasuk kaum elitis. Rodriguez dan Ferreira seakan bukan manusia merdeka yang memiliki hak atas imannya sendiri. Ferreira dihujat karena dianggap murtad, dengan kabar yang kebenarannya diragukan. Tak satu manusia pun bisa melihat iman Ferreira, tidak pula mengalami penderitaan yang sama dengan Rodriguez.

Begitu pula dengan pemeluk agama Kristen di Jepang yang dibunuh pelan-pelan sebagai martir masa itu. Mereka bahkan tidak punya kuasa atas diri mereka sendiri. Di antaranya, ada orang-orang yang teguh mempertahankan keyakinan secara terang-terangan, ada pula yang mau berkompromi dengan keadaan. Bahkan kisah ini tak lepas dari perbedaan pendapat, manusia-manusia yang sok tahu dan mencari pembenaran atas dirinya sendiri.

Kutipan

Iman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s