Posted on

Bila Management Lisan Diterapkan

a.       Kondisi Obyektif

                Semua perusahaan punya system management, bagaimana kalau system management lisan menjadi berperan. Semua aturan menggunakan lisan,seluruh kebijakan hanya ada pada direktur finance, team administrasi sangat berperan dan dominan. Awas ANDA harus hati-hati dan benar-benar punya hati. Seorang profesional masuk dalam tatanan  dan dikasih jabatan Oprasional Manager (OM). Tidak mudah untuk dapat mengatur seluruh infra struktur yang ada. Salesman, supervisor sulit untuk percaya bahwa sang OM akan dapat merubah pola-pola yang ada.

                Sang OM mulai bekerja pada hari pertama, kedua, bulan pertama dan bulan kedua, disinilah masalah mulai ada, dari delivery, system gaji, incentive, colection, hingga ke masalah tekanan-tekanan mental. Management lisan lahir dari sebuah system ketakutan akan berbagai hal. Dengan pola lisan segala sesuatu yang menyangkut pihak pertama akan mudah dirubahnya. Sering kali dalam tatanan ini hal-hal yang menyangkut karyawan tetap digunakan perjanjian yang lebih dan justru menggunakan tulisan.     

                Masalah – masalah dirasakan sebagai jebakan bagi karyawan, bekerja dengan tidak tenang, bekerja dengan ketidak pastian, bekerja dengan gaji harian. Turn over karyawan sangat tinggi, hingga tiap bulan berganti-ganti. Perdebatan dalam penyelesaian tak dapat di elakkan antar karyawan. Management lisan cenderung dan mudah menimbulkan konflik yang timbul dari miskomunikasi, hingga management ini sering disebut juga dengan menagement konflik. Inilah potret management lisan.

                Seorang profesionalisme bekerja cenderung taat dan mentaati system dan aturan yang ada, bila system dan aturan dibuat secara lisan, maka dia akan mencoba untuk diaktualisasikan ke dalam tulisan. Tidak mudah untuk memberikan sebuah pengertian agar segala system diatur dengan tulisan. Memang dengan management lisan  management tidak terlalu dipusingkan oleh aturan-aturan yang mengikat dirinya dalam berstatment. Segala pembicaraaannya menjadi sebuah aturan pada saat itu dan begitu juga saat itu pembicaraannya dapat menghapuskan segala aturan yang ada. Hati-hatilah karyawan yang bekerja pada tatanan management seperti ini. Bos suka anda kaya, Bos tidak suka anda terhina.

                Karyawan yang bekerja pada system ini beraneka ragam persepsi, tujuan dan harapannya. Ada yang konsisten terhadap pekerjaan karena mereka sudah dapat perhatian dan harapan. Ada yang sekedar mencari pengalaman, setelah pintar dia akan kabur. Yang jelas tingkat performance yang profesional cenderung kecil sekali, bahkan seorang yang merasa profesional akan meninggalkan perusahaan seperti ini. Karyawan yang belum tercapai harapannya dia akan menunggu dan sambil mencari. Karyawan bayak yang berprinsip sekedar untuk cari pengalaman dan pelampiasan dari pengganguran.

                 Management lisan tidak selamanya tidak menguntungkan, justru dengan management lisan perusahaan akan bertahan, mengingat kemampuan dan pikiran pemilik perusahaan memang secara lisan. Management lisan sebenarnya tidak selamanya diinginkan oleh management, tetapi rasa ketakutan akan tulisan justru mengganggu pikiran-pikiran management karena sudah habit dan terbiasa dengan lisan.

b.      Peran Oprasional Manager

               Sang OM menghadapi situasi perusahaan seperti ini, akan melihat performance OM tersebut. Kalau dia profesioal maka dia akan berfikir secara terbalik. Artinya belajar dari kondisi  obyektif, habit dan prilaku kultur perusahaan tersebut adalah hal  yang terbaik. Memang pada awalnya dia akan idialis untuk membuat sebuah conseptula skill, strategy distribusi dan berbagai hal planning. Sebenarnya dia sudah menyadari bahwa hal yang dia lakukan seperti menggarami lautan. Tetapi karena tuntutan profesionalisme, maka hal tersebut wajib dan harus dilakukan. Walau dia sendiri tahu bahwa hal itu akan tidak banyak arti, tetapi dari tindakannya dia sebenarnya telah mendapatkan sesuatu yang luar biasa dari kebijakan yang telah dijalan. Ini adalah sebuah feedback dan strategy untuk meningkatkan pola kreatifitas dari profrsionalismenya sang OM. Walau sebenarnya sang OM sedikit pusing memlihat kondisi obyektif yang ada.

                Kehadirannya memang belum merubah banyak, tetapi dapat memberikan sebuah warna dan nuansa management. Hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya pada management seperti ini sangat komplek dan situasional. Sang OM dapat berperan sebagai seorang salesman, juru tagih, juru eksekusi, merangkap HRD, juga menangi seluruh aktifitas dari perusahaan. Ini bagi seorang profesionalisme adalah kehormatan yang tidak bernilai harganya, tetapi juga merupakan pengkebirian performance. Mingat untuk eksekusi dan action dia akan terbelenggu oleh terbatasnya otorisasi dan prerogatifnya sebagai sang OM, bahkan hal yang sangat terkecilpun harus ijin pada management. Yang lebih membuat sang OM kadang-kadang harus mengelus dada adalah adanya kelapa administrasi yang dapat memveto kebijakan yang telah dibuat oleh sang OM. Sebab orang ini adalah orang kepercayaan dari sang owner. Ini benar-benar luar biasa management yang diterapkan. Sehingga sang OM lama bilang “sosok Tantri Abeng saja kalau ditaruh disini tidak akan berarti apa-apa”. Hebat dan luar bisa kan untuk dipelajari lebih lanjut., inilah yang menjadi tantangan bagi Sang OM, maka dia akan bertahan untuk beberapa waktu untuk melihat akhir dari management seperti ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s